3/06/2015

Menyambung Asa Pasar Tradisional

Adzan subuh belum berkumandang, tempat ini sudah penuh sesak dengan lautan manusia. Sebagian sibuk menawarkan dagangannya, lainnya sibuk menawar dagangan atau berjalan menyusuri kios-kios. Bukan hanya pedagang dan pembeli yang sibuk, penarik becak, buruh panggul, petugas kebersihan pun ikut meramaikan suasana. Seringkali sapaan, tawa dan obrolan menyelingi kegiatan di tempat ini. Kesibukan itu akan berlangsung hingga matahari terbenam di sore hari.

Itulah gambaran pasar tradisional di Indonesia. Keberadaan pasar tradisional sebagai tempat jual beli di Indonesia, memang tidak dapat dipisahkan dari keseharian dan tradisi masyarakat Indonesia. Pasar tradisional selain menjadi tempat jual beli, juga menjadi tempat berbaurnya sosial dan budaya dimana pasar tersebut berada.

Suasana dini hari di pasar tradisional Sumber: Arryrama


Dewasa ini, keberadaan pasar tradisional di Indonesia semakin terpinggirkan. Semenjak banyak dibangunnya toko modern sampai ke tingkat kecamatan di berbagai kota di Indonesia, pasar tradisional tidak lagi seperti yang digambarkan di atas. Suasana jual beli di pasar tradisional semakin sepi ditinggalkan pembeli. Jam operasi nya pun sudah tidak lagi sampai sore hari. Masyarakat, terutama kaum muda, lebih memilih untuk berbelanja di toko modern yang dirasa lebih aman, bersih, nyaman dan bergengsi dibanding pasar tradisional.

“Kebiasaannya kita masyarakat Indonesia selalunya ingin ke depan tanpa melihat adanya apa sih potensi yang sudah ada. Biarlah apa yang ada ini kita telateni dulu” – Rika Fatimah, Dosen UGM FEB, Dilema Keberadaan Pasar Tradisional Ditengah Gempuran Toko Modern ADiTV.

Masyarakat Indonesia selalu silau dengan sesuatu yang datang dari luar yang dianggap lebih modern dan bergengsi. Akibatnya banyak masyarakat Indonesia lebih memilih segala sesuatu dengan embel-embel luar negeri ataupun modern, mulai dari pakaian, sepatu, makanan, bahkan berbelanja di toko-toko modern seperti supermarket dan minimarket yang notabene merupakan penyuplai barang dari luar negeri ataupun dimiliki ritel asing.

Tidak salah kita ingin menjadi manusia modern. Tapi apakah kita harus meninggalkan segala sesuatu yang bersifat tradisional dan menerima segala sesuatu dari luar yang dianggap lebih modern? Tidakkah kita membantu ‘memodernkan’ potensi yang sudah ada? Haruskah kita selalu meninggalkan pasar tradisional yang mana merupakan salah satu tradisi bangsa Indonesia?

Pasar tradisional identik dengan suasana becek yang membuat tidak  nyaman untuk berbelanja. Seringkali kita menjadikan ‘suasana becek’ ini alasan keengganan untuk berbelanja ke pasar tradisional. Kita menuntut revitalisasi pasar tradisional agar memiliki bangunan yang lebih modern. Tahukah bangunan hasil revitalisasi itu harganya terlampau mahal untuk pedagang pasar tradisional yang mayoritas merupakan masyarakat menengah kebawah? Oleh sebab itu, cara satu-satunya kita harus berbelanja di pasar tradisional guna meningkatkan daya beli pedagang pasar tradisional.

Pedagang kecil di pasar tradisional. Sumber:  Riza Roidila
Pasar tradisional merupakan tempat dimana roda ekonomi masyarakat Indonesia berjalan. Produk yang dijual di pasar tradisional sebagian besar merupakan hasil dari petani, peternak dan pengrajin lokal. Selain itu, pedagang pasar tradisional biasanya merupakan masyarakat lokal. Dengan berbelanja di pasar tradisional, kita turut membantu ekonomi masyarakat lokal.

Produk lokal di pasar tradisional. Sumber: Heritage Semarang

Pasar tradisional sangat penting bagi ekonomi Indonesia. Produk-produk yang dijual di pasar tradisional merupakan produk lokal.  Penjualan produk lokal menyebabkan perputaran uang di dalam negeri. Penjualan produk lokal juga dapat menjadi daya tahan ekonomi Indonesia ketika ekspor melemah dan terjadi krisis global.

“... pasar tradisional telah menjaga sektor rill paling bawah negeri ini. Bahkan ketangguhan pelaku ekonomi mikro setidaknya telah menjadikan Indonesia memiliki daya tahan terhadap krisis yang sangat baik di banding negara-negara lain sehingga terhindar dari krisis ekonomi global yang telah terjadi pada 2008-2009... Konsumsi domestik dari APBN yang dibelanjakan di dalam negeri kembali, jelas menjadi kekuatan kendati nilai ekspor Indonesia mengalami penurunan.” (http://dikti.go.id/blog/2013/03/04/kedaulatan-pasar-tradisional/ , diakses pada 6 Maret 2015)

Harga di pasar tradisional kadang-kadang lebih mahal dibanding harga di toko modern. Perbedaan pasar tradisional dengan toko modern yakni, produk di pasar tradisional melalui berbagai distibutor, sehingga harganya akan lebih mahal. Sedangkan, toko modern memiliki akses langsung ke distributor utama (pabrik), sehingga harganya relatif lebih murah. Tapi perbedaan harga yang terjadi tidak akan terlalu jauh antara pasar tradisional dan toko modern. Apabila kita belanja ke toko modern harga nya lebih murah Rp1000,- dibandingkan di pasar tradisional, apalah artinya Rp1000,- bagi perusahaan ritel besar. Tapi Rp1000,- akan sangat berarti bagi pedagang pasar tradisional.

Pasar tradisional merupakan investasi jangka panjang dalam rangka pemerataan ekonomi dan keberlangsungan sosial budaya masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, keberadaan pasar tradisional di Indonesia merupakan sesuatu hal yang penting dan harus dilestarikan.

Kita tidak harus menghindari mall untuk berbelanja. Tapi alangkah lebih baiknya kita juga selingi dengan berbelanja di pasar tradisional. Korea merupakan negara yang tidak kehilangan tradisinya walaupun hidup mereka sudah sangat modern. Pasar tradisional Dongdaemun di Kota Seoul, Korea Selatan, tidak kehilangan tradisionalnya dan tetap menjadi tempat jual beli yang populer disana. Tidakkah kita ingin seperti itu? Menjadi manusia modern tanpa harus meninggalkan tradisi kita, bangsa Indonesia?


Pasar Tradisional. Sumber: Nurcholis Anhari Lubis

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Kebangsaan

No comments:

Post a Comment

What do you think?